MEMANUSIAKAN MANUSIA DENGAN WARISAN NENAS DAN SIRIH

MEMANUSIAKAN MANUSIA DENGAN WARISAN NENAS DAN SIRIH

Oleh Syukur Matur

Guru SMP Negeri 1 Nagawutung

Sebuah judul unik yang saya angkat sebagai  bukti keberhasilan dan kesuksesan kami dalam menempuh dunia pendidikan. Walaupun dalam prosesnya sampai dengan kami berijazah minimal SMA dan maksimal Sarjana sangat menyata hati dengan barmuara pada penghasilan dari warisan  nenek berupa Nenas dan Sirih. Namun sebagai seorang bapak yang pekerja keras dan selalu memikirkan keluarga dan masa depan anaknya selalu menikmati kehidupan itu tanpa ada penuturan se-hurufpun.  Kami dalam keluarga berjumlah 6 orang bersaudara yang terlahir dari pasangan Seorang Bapak (Rahman Wulakada, almarhum 31 Desember 2019) dan Seorang Ibu (Maryam Tawan) yang memulai keluarganya di tahun 1974.

SYUKUR MATUR nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku dan akrab dipanggil dengan nama SYUKUR. Sedikit ulasan tentang nama Syukur menurut penuturan ayahanda ketika duduk berdiskusi sebagai momen petuah seorang ayah terhadap anaknya. Ketika ibuku mengandung anak yang pertama maka dalam sujud ayahanda selalu meminta kepada Sang Pemilik jagat untuk memberikan anak yang ada dalam kandungan pertama ini seorang anak berjenis kelamin perempuan dan alhamdulillah tepatnya 27 September 1975 ibu juga melahirkan dan anak tersebut perempuan. karena permintaan ayahanda dikabulkan oleh Sang Pemilik jagat akhirnya anak tersebut diberi nama Karunia. Mengapa anak pertama itu harus perempuan ? Karena Anak perempuan ketika mencapai usia yang bisa dapat disuruh sekitar usia 4 sampai 5 tahun nanti dapat membantu ibunya. Itulah alasan sederhana yang diberikan oleh sang ayahanda. Namun diusianya yang ke 29 lebih mau masuk usia 30 Tepatnya awal Juni 2005 beliau kembali menghadap Sang Khalik alias meninggal dunia. Dalam perjalanan ibuku mengandung anak yang kedua. Dan harapan ayahanda menginginkan anaknya laki-laki.

Dibawah kaki sebuah gunung yang syarat akan sejarahnya yaitu Gunung Uyelewun yang letaknya di bagian paling Timur kabupaten Lembata. Kabupaten yang dilahirkan dari kabupaten Induk Flores Timur Nusa Tenggara Timur pada  tahun 1999

Gunung Uyelewun merupakan sebuah gunung yang dikakinya dikelilingi oleh puluhan kampung. Yang diberi nama Kedang atau Edang (Bahasa Daerah). Menurut penuturan sejarah bahwa semua orang asli kedang disetiap kampung tersebut mempunyai nenek moyang yang turunnya dari gunung tersebut. Ketika ditarik garis keturunan atau silsilah keturunan maka semua akan bertemu pada generasi tertentu. Dari puluhan kampung tersebut disanalah letak kampungku ALIUROBA yang berada didaerah pedalaman lereng gunung Uyelewun.

Berdasarkan penuturan ayahanda bahwa Selepas Magrib tepatnya pukul 18.40 WITA di HARI SENIN TANGGAL 10 APRIL 1978 terdengar tangisan seorang bayi hadir di dunia ini. Tangisan menggelar di atas tikar berdaun koli dan disinari dengan redupan cahaya dari buah kemiri yang sudah membusuk  yang dirakit menjadi sebuah lampu pelita.  Karena tempat tinggal kala itu masih dikebun. Kebun dengan rumah pemukiman juga tidak ada bedanya dari sarana karena ditahun-tahun tersebut kita masih dibilang prasejarah. Proses persalinan juga lumrahnya degan dukun beranak. Ayahpun melakukan sujud syukur sebagai wujud ucapan terima kasihnya kepada Sang Pemilik Jagat atas selesainya proses persalinan ibunda dengan selamat dan menghadirkan seorang anak laki-laki di dunia. Dalam suasan refleks ayahanda menyebutkan kalimat Syukur alhamdulillah secara berulang-ulang sehingga ayahanda memberikan namaku dengan sebutan Syukur. Nama yang syarat akan makna. Syukur karena lahir dengan selamat, syukur karena anak yang dilahir sebagai wujud sujudnya kepada Allah SWT yaitu anak laki-laki pertama kelahiran KEDUA dari rahim ibunda Maryam Tawan. Jarak kelahiran Saya dan kakanda saya sekitar kurang lebih 3 Tahun. Kemudia ditahun 1981 ibu saya melahirkan seorang perempuan namun seminggu kemudian meninggal dunia. pada tahun 1983 ibu saya melahirkan seorang anak perempuan lagi dan alhamdulillah masih diijinkan oleh Allah untuk hidup di jagatnya Allah. Setelah ibu menghadirkan kami bertiga sungguh kondisi ekonomi yang memperihatinkan dan kelaparan merajalela kala itu. Akhirnya sang ayah mengambil keputusan untuk mencari hidup di negeri Ziran Malaysia ketika usia adik yang ketiga masih berusia 6 bulan. Sebanyak 4 kali yaitu 1983 perigi dan pulangnya 1985, 1985 -1986, 1986-1988 dan 1988 – 1990. Pergi pulang malaysia untuk mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Namun tepatnya 26 Juni 1990 hadir lagi seorang bayi laki-laki kedua dari kelahiran  kelima ibunda. Ayahanda bertekat untuk meneruskan warisan nenek moyang kepadanya berupa Nenas dan Sirih untuk kehidupan dalam rumahtangga. Pada tahun 1992 hadir lagi seorang anak laki ketiga dari kelahiran keenam ibunda. Dengan berpegang pada prinsip bahwa merantau berulang-ulang juga tidak membawa perubahan maka sang ayahanda memulai karirnya sebagai PETANI untuk lebih fokus pada warisan nenek moyang tersabut. Yang merupakan pembagian dari sang Kakek (ayah dari ayah saya). Dari hasil tersebut ayahanda bisa menyekolahkan kami berlima pada saat itu. Dan kala itu hanya orang-orang yang mampu dan merantau saja yang bisa menyekolahkan anaknya sampai finis  pada tingkat SMA atau Sarjana. Namun orang yang berpencahariannya Petani, tinggal di kampung bisa menyekolahkan kami berlima dengan bermodalkan MENJUAL BUAH NENAS DAN SIRIH.

Karunia anak Pertama (almarhumah) Tamat SMK (berijazah) dan sudah punya lapangan pekerjaan sendiri yaitu menjahit dan orangtua (ayah) juga menjadi penyedia lapangan pekerjaan baginya yaitu dengan membelikan sebuah mesin jahit. Saya (Syukur) anak kedua berijazah Sarjana dan bergelar S.Pd Fisika dan sekarang menjadi ASN pada SMP Negeri 1 Nagawutung kabupaten Lembata. Fatima anak keempat tamat SMK dan sudah punya lapangan pekerjaan sendiri yaitu menjahit dan orangtua (ayah) juga menjadi penyedia lapangan pekerjaan baginya yaitu dengan membelikan sebuah mesin jahit. Sudirman anak kelima Tamat SMA sekarang menjadi tenaga Swasta di Jakarta. Supratman anak keenam berijazah Sarjana dan bergelar S.Pd Geografi dan sekarang menjadi tenaga honor daerah di SMP Negeri 2 Buyasuri

Ayahanda telah menuntaskan tugas pokoknya sebagai seorang orangtua yang bertanggung jawab. Dimana tanggung jawab puncak yang ayahanda berikan menikahkan anak-anaknya. Di penghujung tahun 2019 tepatnya 31 Desember 2019 ayahanda kembali kepangkuan ilahi.

Hidup dengan berbagai kesederhaan namun tanggung jawab ayahhanda untuk menyekolahkan anaknya tidak sirna. Diusiaku yang ke 6 tahun saya masuk sekolah di SDK Aliuroba tahun 1984 dan menyelesaikan studi di jenjang tersebut  di Tahun 1990. Kemudian 1990/1991 masuk di MTs Al-Muhajirin Hingalamamengi dan tamat tahun 1993/1994. Karena keinginan untuk masuk ke MTs sehingga harus pisah selama 3 Tahun dengan kedua orangtua. Lulus dari MTs pada tahun 1994 lanjut lagi hijrah ke jenjang berikutnya yaitu SMA-K St Darius Larantuka yang merupakan Ibu Kota kabupaten Flores Timur dan tamat pada Tahun 1997. Dimana harus pisah dari orangtua semakin jauh yang terhalang oleh beberapa pulau dari kampung halaman Aliuroba. Pada Tahun 1997 hijrah ke ibukota Propinsi NTT tepatnya di Kupang untuk mengikut tes Secaba Angkatan Darat dan rejekinya belum memihak pada saya sehingga harus gugur di tahapan Psikotes. Untuk keinginan kuliah waktu sesungguhnya tidak terlintas dalam benak saya. Satu cita-cita saya semenjak duduk di SD hanya pingin menjadi tentara termotivasi dari mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Sehingga tahun 1997 kembali kekampung untuk membantu orang tua mengurus Nenas dan Sirih untuk membiayai sekolah adik-adik.

Di awal tahun 1998 ada salah satu program dari ABRI yang diberi nama Karya Bakti ABRI yang kegiatannya membuka jalan dan kegiatan-kegiatan lainya untuk membangun desa. Disitulah saya juga ambil bagian dalam kegiatan dimaksud. Dipertengahan 1998 ayahanda memberikan ultimatum yang sangat berat bagi saya. MAU KULIAH ATAU IJAZAH INI SAYA BAKAR, ROBEK DAN JUAL? Itulah ultimatum ayahhanda. Dengan tidak berpikir panjang langsung hijrah ke Kupang Untuk mengikuti tes pada UNDANA Kupang. Alhamdulillah dari dua program studi yang saya pilih yaitu Kimia dan Fisika, saya lulus di Fisika. Sehingga awal kuliah di UNDANA pada tahun 1998.

Begitu banyak rintangan dari sisi ekonomi keluarga proses kuliapun mulai tersendat ketika berada disemester kedua. Pada semester ini saya jatuh sakit dan harus tunggak semua mata kuliah pada semester tersebut. Teman-teman angkatan 1998 mulai overlap. Semangat kuliah mulai berkurang sehingga harus sampai pada semester 13 dan mulai alih profesi menjadi ojek dan harus korbankan kuliah.  Tiga tahun berlalu dari tahun 2005 -2007 hanya berkiprah di ojek. Pada tahun 2007 terima telpon dari kampung yaitu dari ayahanda dan menanyakan kepada saya, “MASIH MAU KULIAH ATAU SUDAH CUKUP DENGAN OJEK?” Dengan spontan saya menjawab kalau soal kemapuan saya masih mau untuk kuliah tapi soal biaya saya angkat tangan.

Mendengar kesanggupan ayahanda untuk bersedia membiayai maka saya langsung mencari Perguruan tinggi di Kota kupang yang relevan dengan program studi fisika. Universitas Katholik Widya Mandira Kupang sebuah Unversita Swasta yang mempunya program studi fisika. Maka saya juga langsung transfer ke UNIKA pada awal tahun akademi 2007/2008 dan Maret 2008 saya diwisudakan dengan mengantongi gelar Sarjana Pendidikan Fisika.

Pada tahun 2009 mengikut tes CPNS dan alhamdulillah lulus dan penempatannya di SMP Negeri 1 Nagawutung sampai dengan sekarang.

Menjadi kebanggan tersediri dikampung halaman jika memperoleh gelar Sarjana apalagi bidang Sarjana yang saya ampuh. Karena merupakan bidang Ilmu yang super langka. Disitulah semangat ayahanda mulai kembali dan menjadikan contoh pengalaman ayahanda dalam mengurus anak-anak sekolah ketika kerabat membutuh tips bagaimana mengurus anak sampai menjadi sarjana sedangkan ayahanda hanya seorang petani yang tinggal di kampung. 

Komentar