MISTERI SEPUCUK SURAT
Senja itu Seni sedang duduk termenung dengan tatapan hampa namun penuh makna untuk dirinya. Tenyata Seni sedang membayangkan nasibnya. Seni merupakan seorang anak gadis yang tamat SMA, salah satu sekolah di wilayah Tanjung Naga. Dia menyelesaikan studinya dijenjang SMA sekitar 4 tahun dan hanya ngaggur dirumah saja. Dia juga merasa minder dengan teman-teman seangkatannya yang sudah pada melanjutkan studi mereka kejenjang perguruan tinggi. Lagi pula adik-adik kelasnya diwaktu SMA juga hampir semua melanjutkan studi mereka ke perguruan tinggi.
Dalam permenungannya ada timbul tanda tanya dalam benaknya, “apakah pendidikan hanya sebatas di SMA? Kenapa yang lain bisa melanjutkan studi mereka di perguruan tinggi sedangkan saya tidak?. Jika dilihat dari faktor ekonomi bisa dibilang sangat mendukung. Apakah saya harus berhenti disini ? “Tanya Seni dalam hati kecilnya”.
Seni hidup dalam keluarga yang serba sederhana namun mapan dari segi ekonominya. Mata pencaharian orang tuanya sebagai petani tulen. Menjadi tradisi orang desa yang mata pencaharian sebagai petani sudah tentu untuk memperbaiki kondisi ekonomi salah satu jalannya adalah harus merantau. Nah disinilah langkah yang diambil oleh orang tuanya. Ibunya sudah pergi menghadap sang khalik beberapa tahun yang lalu. Sehingga Seni hidup hanya dengan ayahnya dan bebrapa orang saudaranya. Ayahnya pun harus melangkahkan kakinya untuk pergi merantau di Malaysia untuk mencari kerja demi memperbaiki kondisi ekonomi.
Setahun berlalu ayahnya berada di tanah rantau, menjadi kebiasaan orang desa selalu menitipkan oleh-oleh untuk orang yang kita sayangi. Oleh-oleh tersebut biasanya dijadikan sebagai pengganti bahwa dia disini sangat merindukan orang-orang yang dia sayangi, apalagi sosok seorang ayah. Proses penitipannya biasanya melalui orang-orang yang hendak pergi merantau. Kebetulan orang yang hendak pergi merantau tersebut adalah keluarga dan juga tujuannya ke tempat yang berdekatan dengan tempat kerja ayahnya.
Jagung titi dan ikan kering menjadi andalan oleh-olehnya buat ayah. Dengan melihat lamanya perjalanan hampir seminggu bahkan mendekati dua minggu maka dua jenis makan tersebut sangatlah bertahan sampai ditempat tujuan. Dan menjadi kebiasaan juga ketika orang-orang yang baru datang dari kampung pasti selalu mengharapkan titipan berupa oleh-oleh dari keluarga walaupunya hanya sekedar salam. Hal ini sudah mejadi kodrat untuk setiap orang yang datang ataupun pergi.
Dalam perbincangan keluarga yang berangkat tadi dengan sang ayah, tiba-tiba keluarga menyampaikan amanat dari Seni untuk ayahnya berupa titpan salam hangat. Namun bukan hanya titip salam saja tetapi ada sebuah gardus terikat rapi. Ketika ayahnya mengambil kiriman berupa gardus tersebut, ada sepenggal kalimat lagi yang disampaikan oleh orang yang membawa titipan tersebut. “Anakmu tidak kirim surat, dia hanya titip gardus itu, tetapi ketika membuka gardus tersebut tolong buka-hati-hati karena didalam gardus tersebut ada sesuatu yang amat berharga, “kata si pembawa kiriman”.
Dengan rasa gembira bercampur haru sang ayahpun kembali ke penginapannya. Dibukanya gardus tersebut dengan sangat berhati-hati. Dan yang terlihat hanyalah jagung titi dan ikan kering. Namun rasa penasaran sang ayah dengan ungkapan si pembawa kiriman tadi, maka sang ayah mencoba memasukkan tangannya ke dalam jagung titi tersebut sedikit lebih kedalam. Tangannya meraba dan merasa kaget sepertinya ada sesuatu. Ternyata ada sepucuk surat tak beramplop.
Sebagai seorang ayah mungkin menganggap hal yang biasa saja seperti surat-surat yang pernah didapatnya. Namun kali ini setelah mengambil surat tersebut rasanya sedikit berbeda. Masih terbalut rasa penasaran dan bertanya dalam hati apa isi surat ini. Dibukanya surat tersebut secara perlahan dan isinya hanya satu kalimat yaitu “AYAH .... SAYA TIDAK BUTUH EMAS DAN PERMATA YANG MAHAL, AYAH .... SAYA HANYA KEPINGIN KULIAH”
Dilema yang dihadapi oleh sang ayah ketika itu dan menjadi pertanyaan besar dalam benak sang ayah. Apakah Seni masih sanggup untuik lanjutkan sekolahnya sedangkan Seni sudah nganggur sekitar 4 tahun??? Pertanyaan itu selalu hadir dan menghantui konsentrasi kerjanya ditanah rantau. Dengan mata yang berbingar ayahnya menutup kembali surat tersebut dan langsung mengangkat handphone langsung berkomuniklasi dengan saudara-saudara ayahnya untuk minta pertimbangan. Hasil konsultasi dengan beberapa saudaranya mereka mengiyakan keinginan Seni.
Keinginan Seni untuk melanjutkan studinya diperguruan tinggi pun terkabulkan. Sehingga ditahun akademik 2015/2016 Seni melangkahkan kakinya ke Kota Karang dan masuk pada Universitas Muhammadiyah Kupang. Jurusan yang Seni pilih sesuai dengan keinginan yaitu mau mejadi seorang Akuntan. Al hasil tepat tanggal 29 Nopember 2020 Seni bersama ayahnya mengikuti ritual pemindahan tali toga alias wisuda dan menjadi legal memperoleh penambahan nama berupa gelar dibelakangnya Sarjan Akuntasi.
Andaikan titpan gardus tersebut hanya berisi jagung titi dengan ikan kering saja maka Seni tidak akan mendapat gelar tersebut. Namun hanya karena sepotong surat yang terselip didalam jagung titi, maka Seni dapat membuktikan kepada ayahanda tersayangnya dengan menghadirkannya dimomen wisudanya 29 Nopember 2020.
Sesungguhnya setiap orang sudah mempunyai garis tangan yang sudah diberikan oleh Sang Maha Kuasa. Kemampuan seseorang jangan dinilai hanya sebatas penglihatan namun perlu dibuktikan dengan usaha nyata. Karena Proses tidak mungkin mengkhianati hasil.
Komentar
Posting Komentar